Paradigma Pendidikan Multiliterasi

Pendidikan abad ke-21 merupakan pendidikan yang menitikberatkan pada upaya menghasilkan generasi muda yang memiliki empat kompetensi utama yakni kompetensi berpikir, kompetensi bekerja, kompetensi berkehidupan, dan kompetensi menguasai alat untuk bekerja. Pendidikan kita seyogianya mampu membekalkan empat kompetensi tersebut secara paripurna pada anak didik kita. Oleh karenanya sebagai paradigma baru pendidikan haruslah diwujudkan guna mampu menempatkan pendidikan pada tempat yang penting dalam mengembangkan kompetensi peserta didik. Paradigma pendidikan yang dibutuhkan dan dapat menanamkan keempat kompetensi tersebut adalah paradigma yang dikenal dengan istilah paradigma pendidikan multiliterasi.

Apakah sebenarnya pendidikan multiliterasi?

Multiliterasi berawal dari konsep literasi. Literasi itu sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dasar literasi ini adalah yang berkenaan dengan kemampuan berbahasa. Namun kemampuan ini tidak dapat berdiri sendiri sebab ia hanya bermakna jika dikaitkan dengan konteks tertentu. Persinggungan literasi dengan berbagai konteks seperti, budaya, komunikasi dan lain sebagainya yang kemudian akan melahirkan istilah multiliterasi. Berangkat dari pengalaman sang penulis yaitu Dr. Yunus Abidin, M.Pd beliau memberikan kesimpulan bahwa makna multiliterasi adalah kemampuan berbahasa yang bertemali dengan konteks, budaya dan media. Wujud dasarnya adalah keterampilan berbahasa, yaknik keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan berbicara, dan keterampilan menyimak. Atas konsepsi pembentukannya ini, keterampilan berbahasa ini mengalami berbagai penyesuaian makna.

Keterampilan Membaca dalam Konteks Multiliterasi

Dalam prakteknya keterampilan ini didapatkan seseorang yang mengolah hasil bacaannya secara kritis dan dituangkan kembali secara kreatif. Pengetahuan yang dihasilkan dari kegiatan membaca dengan demikian menjadi pengetahuan yang mendalam. Kedalaman pengetahuan ini juga berhubugan erat dengan konteks pengetahuan yang terdapat didalam teks tersebut. Dengan kata lain, membaca secara multiliterasi memerlukan kemampuan yang berpikir yang kritis dan kreatif guna membangun pemahaman yang mendalam.

Keterampilan Menulis dalam Konteks Multiliterasi

Keterampilan ini dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan gagasan, ide, dan hasil pemikiran secara luwes dan lancar. Secara fungsinya menulis bukan hanya digunakan sebagai wahana ekspresi diri melainkan sebagai wahana membangun makna. Hal ini disebabkan tulisan yang dihasilkan bukan hanya berisi imajinasi melainkan dapat pula berisi sejumlah ilmu pengetahuan. Dengan demikian, menulis dalam konteks multiliterasi merupakan wahan untuk membangun wawasan, pengetahuan, dan pemahaman keilmuan itu sendiri.

Baca: Cara Menulis Artikel

Berbicara Secara Multiliterasi

Kegiatan ini merupakan keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide dan hasil pemikiran secara lisan. Pokok pembicaraan yang dihasilkan tentusaja bukan berupa gosip atau candaan yang bersifat sugestif rekreatif, melainkan berisi wawasan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Berbicara dalam konteks ini dilakukan dengan berbasis pada kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif dengan mempertimbangkan nilai-nilai etika dan estetika dengan kemampuan beretorika.

Pembelajaran Multiliterasi | hlm. 5-9

Tanggapi dan komen kami jika ada sesuatu yang keliru kami siap menerima masukan, atau bisa hubungi kami lewat Contact Us