Sudut Pandang Pembelajaran Bahasa dan Literasi

Pembelajaran bahasa dan literasi dapat dipandang berdasarkan berbagai sudut pandang pembelajaran yang berbeda. Bisa dari sudut pandang Linguistik yang berfokus pada teks, sudut pandang kognitif yang berfokus pada berpikir, sudut pandang budaya yang berfokus pada kelompok, dan sudut pandang pertumbuhan pengetahuan yang berfokus pada pertubuhan.

Paradigma Bahasa dan Literasi dengan Istilah Dekoding

Sejalan dengan sudut pandang terhadap pembelajaran bahasa dan literasi, paradigma pembelajaran literasi telah berkembang dari waktu ke waktu. Paradigma pembelajaran tertua dikenal sebagai paradigma dekoding. Dalam pandangan paradigma dekoding ini, pembelajaran literasi merupakan pembelajaran yang bersifat deduktif. Basic pembelajaran literasi terletak pada aspek grafofonemis yang selanjytnya bergerak pada aspek morfemik dalam rangka menghasilkan makna. Pembelajaran literasi dipandang sebagai proses individu dan perkembangan literasi dipandang sebagai proses perkembangan kemampuan dari bagian menuju kesatuan. Pembelajaran literasi dilakukan melalui pembelajaran tentang bahasa, pembelajaran bahasa, dan belajar melalui bahasa.

Paradigma Keterampilan

Paradigma kedua dalam pembelajaran literasi dikenal dengan istilah paradigma keterampilan. Dalam pandangan ini, pemahaman terhadap morfem dianggap sebagai basis perkembangan kemampuan literasi. Pembelajaran bahasa masih dipandang sebagai proses individual. Sama halnya dengan paradigma sebelumnya, paradigma ini, pembelajaran literasi dilakukan melalui pembelajaran tentang bahasa, pembelajaran bahasa, dan belajar melalui bahasa.

Paradigma Whole Language

Paradigma ketiga dalam literasi dikenal dengan istilah paradigma whole language. Dalam pandangan paradigma ini, fokus pembelajaran literasi adalah makna. Pembelajaran literasi bergerak dari pemahaman makna menuju analisis sintaksis dan grafomorfeis. Perkembangan literasi dipandang sebagai proses kesatuan menuju bagian dan pembelajaran literasi dipandang sebagai pembelajaran yang bersifat induktif. Pengembangan kemampuan literasi dilakukan melalui belajar bahasa, belajar berbahasa menuju belajar tentang bahasa. Dalam paradigma ini, pembelajaran literasi selanjutnya dipandang sebagai proses pembelajaran kolaboratif.

Paradigma Multiliterasi

Paradigma multiliterasi menghendaki siswa mampu mengeksplorasi dan mengkritisi beragam teks, topik, ataupun isu yang menarik dari berbagai disiplin ilmu (matematika, IPA, IPS, Sastra) dan mampu menggunakan beragam sistem komunikasi (Bahasa, Seni, Musik dan Drama) sebagai media mengomunikasikan berbagai produk pemahaman kritis tersebut. Materi pembelajaran multiliterasi mencakup beragam jenis teks yang berasal dari beragam sumber teks. Fokus pembelajaran ,ultiliterasi sama halnya dengan fokus pembelajaran literasi kritis yakni pengembangan kemahiran literasi serta pengembangan keterampilan kritis, kreatif dan produktif. Sejalan dengan paradigma ini, memandang bahwa kurikulum integratif sebagaimana digambarkan dibawah ini merupakan salah satu tawaran kurikulum yang paling tepat untuk menerapkan multiliterasi di sekolah.

Pembelajaran Multiliterasi Dr. Yunus Abidin, M.Pd | hlm. 36-40

Tanggapi dan komen kami jika ada sesuatu yang keliru kami siap menerima masukan, atau bisa hubungi kami lewat Contact Us