Konsep Metakognisi

Metakognisi banyak sekali dijelaskan oleh para peneliti, pada kesempatan kali ini yang akan disebutkan 6 peneliti yang memberikan pandangannya tentang metakognisi ini.

Pertama

Flavel ~ menjelaskan metakognisi adalah pengetahuan atau proses kognitif yang berkenaan dengan penilaian dan pemantauan atau pengontrolan kognisi.

Kedua

Larkin ~ menyatakan bahwa metakognisi merupakan proses refleksi atas pikiran kita miliki dan menjaga jalur pikiran kita agar tetap terfokus pada tujuan yang hendak dicapai.

Ketiga

Nelson dan Narens ~ mempopulerkan konsep metakognisi ini dalam era modern melalui publikasi hasil penelitian tentang monitoring dan kontrol kognisi. Teori ini dipandang mampu mengintegrasikan seluruh penelitian sebelumnya yang bertemali dengan konsep metakognisi. Lebih lanjut teori ini berkonsentrasi pada interaksi dua proses metakognisi yakni monitoring dan kontrol.

Keempat

Musa & Braid ~ memandang konsep ini sebagai sebuah konsep multisegi. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa konsep ini terdiri atas pengetahuan, penilaian terhadap proses dan strategi kognitif, serta pemantauan atau pengontrolan kognisi. Sebagian besar kkegiatan kognitif tergantung pada faktor-faktor yang memantau dan mengendalikannya. Bertemali dengan pandangan ini, metakognitif sering pula dikatakan sebagai area yang membantu seseorang untuk belajar yang lebih baik, memahami dengan lebih baik, dan memperoleh prestasi belajar yang lebih baik, dan membuat keputusan hidup secara lebih bijaksana. Metakognisi adalah berpikir tentang berpikir, belajar tentang belajar, dan memahami tentang bagaimana cara memahami.

Kelima

Kluwe ~ menyatakan bahwa metakognisi memungkinkan kita menjadi agen atas pikiran kita sendiri. Dengan kata lain, konsep ini menjadikan kita sebagai seorang individu yang dapat membangun pemahaman tentang diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita, mengendalikan pikiran dan perilaku kita, dan memonitor konsekuensi atas pikiran dan perilaku tersebut.

Keenam

Vandergrift dan Goh ~ memandang konsep ini sebagai kemampuan kita dalam berpikir tentang pikiran kita sendiri. Konsep ini dapat pula diartikan sebagai bentuk perluasan kognisi yakni kemampuan berpikir tentang bagaimana memproses informasi untuk berbagai tujuan dan mengatur cara bagaimana hal tersebut harus dilakukan.

Kemampuan Metakognisi

kemampuan ini merupakan kemampuan untuk seakan-akan melangkah mundur pada saat dan dalam waktu tertentu dari apa yang telah kita ketahui untuk menganalisis dan mengevaluasi apa yang kita pikirkan. Sebagian besar pemahaman ini pada dasarnya dapat dikembalikan pada pendapat Flavel, yang menggambarkannya sebagai pengetahuan seseorang tentang proses kognitifnya, pemantauan aktif dan peraturan konsekuen, dan mengorkestrasikannya dalam kaitan dengan objek kognitif

Pembelajaran Multiliterasi Dr. Yunus Abidin, M.Pd | hlm. 85-86

Tanggapi dan komen kami jika ada sesuatu yang keliru kami siap menerima masukan, atau bisa hubungi kami lewat Contact Us

Tinggalkan Balasan

Required fields are marked *