Bumi Manusia merupakan novel pembuka dari Tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh seorang sastrawan terkenal yaitu Pramoedya Ananta Toer ditulis pada Tahun 1980 diantaranya ada empat judul buku yang pertama Bumi Manusia, kedua Anak Semua Bangsa, ketiga Jejak Langkah, dan yang keempat Rumah Kaca pembaca seperti dikoyak-koyak.

Bumi Manusia
Tetralogi Pulau Buru

Buku yang berjudul Bumi Manusia karna kisah dalam buku ini sangat menarik sehingga cerita dalam buku novel ini divisualisasikan ke Layar Lebar.

Bumi Manusia Cerita Singkatnya

Tokoh yang diceritakan didalam buku ini adalah seorang pemuda yang hidup dimasa kolonila Belanda yang bernama Minke, dia merupakan seorang anak dari Bupati sehingga Minke bersekolah di sekolahnya orang-orang Belanda pada masa itu yaitu Sekolah HBS. Karena Minke sekolah di HBS dia jadi mempunyai pandangan yang jelek terhadap masyarakat pribumi Indonesia. Dilingkungan Sekolahnya Minke merupakan seorang pelajar yang sangat pintar dari siswa HBS Belanda yang lainnya. Pada suatu hari Minke bermain dengan temannya yang bernama Robert ke rumah dia dan didekat rumah robert terdapat suatu perkebunan yang sangat luas beserta rumah yang besar, ketika Minke dan Robert masuk ke linkungan rumah besar tersebut dia bertemu dengan seorang perempuan Belanda yang sangat cantik yang bernama Analise yang digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer perempuan yang memiliki kecantikan seperti Ratu Belanda. Analise mempunyai seorang Ibu yang bernama Nyai Ontosoro.

Penjelasan Kata “Nyai”

Sebelum jauh menceritakannya akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai kata “Nyai”. Kata Nyai pada masa kolonial itu dalam bahasa jawa memiliki arti Gundik dan Gundik itu adalah Wanita Simpanan orang Belanda.

Kisah Nyai Ontosoro juga cukup panjang diceritakan karena kisah Nyai Ontosoro ini adalah seorang perempuan yang dijual oleh ibunya sendiri ke keluarga Belanda. Dan saat hidup dengan orang Belanda ini dia sangat giat sekali membaca dan menulis semangatnya Nyai Ontosoro juga didukung oleh orang Belanda tersebut dengan disediakannya buku-buku. Karna ilmu pengetahuan yang didapatnya Nyai Ontosoro pun mampu untuk mengelola perusahaan perkebunannya oleh sendiri.

Ketika mengetahui anaknya yaitu Analise bersama Minke, Nyai Ontosoro pun langsung terkesima dan seakan-akan menyetujui jika Analise dijodohkan dengan Minke. Namun ada kendala yang serius sehingga perjodohan pun tidak berjalan dengan lancar, kendalanya itu adalah karena Ontosoro itu adalah seorang nyai atau gundik, jadi dimata hukum Belanda pada saat itu perjodohan mereka tidak akan bisa diwujudkan.

Karena Minke merasa dirinya tidak diperlakukan secara adil maka diapun memberikan perlawanan kepada Belanda melalui tulisan. Karena Ontosoro dengan Minke memiliki hobi yang sama yaitu menulis dan sama-sama merasa tidak diperlakukan adil maka Ontosoro pun memberikan motivasi kepada Minke

Ayo kita melawan sehormat-hormatnya

Cerita Penulis

Karena posisi Pramoedya Ananta Toer menulis buku ini didalam penjara jadi Tetrologi buruh itu karena Pramoedya Ananta Toer diasingkan ke Pulau Buruh dan selama dipenjara itu tulisannya dia dicampakan. Penerbit pertama yang menerbitkan tulisannya pun bukan Indonesia tapi Penerbit dari Jerman yang pertama kali menerbitkan buku Pramoedya Ananta Toer ini. Naskah-naskah Pramoedya Ananta Toer tidak diterima oleh orang Indonesia karena tulisannya dianggap menyebarkan paham-paham Komunis.

Jadi jika diperhatikan dalam tulisannya beliau menggunakan nama Minke, Analise dan Ontosoro sebagai alat untuk menyampaikan kritik ke Bangsa ini, mengapa orang pintar di Negeri ini tidak diterima oleh bangsanya sendiri tapi malah diterima dan dikagumi oleh bangsa luar.

Dari seorang Minke Pramoedya Ananta Toer memberikan kritik dan perlawanan bagaimana ketidakadilan bangsa Indonesia pada Masa Kolonial Belanda, masyarakat Indonesia haya disuruh untuk kerja paksa tanpa dibarengi dengan pemberian ilmu pengetahuan sehingga masyarakat Indonesia tidak bisa sejahtera dan melalui proses itu tidak terjadi proses pendidikan terhadap bangsa.

Fakta unik dari tokoh Minke ini adalah seorang Tirto Adhi Soerjo seorang Tokoh Bapak Pers Nasional

Bumi Manusia adalah tentang Keadilan

Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran atau dalam perbuatan

Ada hal yang perlu kita ketahui bahwa Pramoedya Ananta Toer bukan sebagai orang pertama yang memakai gaya Realisme Sosialis di Indonesia. Jadi pada perkembangannya Realisme Sosialis ini dimulai pada Tahun 1910 yang ditulis oleh Tirto Adhi Soerjo dan Marco Kartodikromo, jadi anggapan Pramoedya Ananta Toer ini adalah pioner itu adalah keliru

Tokoh yang ditulis:

  1. Pramoedya Ananta Toer
  2. Tirto Adhi Soerjo
  3. Marco Kartodikromo

Baca dan Ketahuilah tokoh diatas disini

Jika ada kekeliruan dimohon jangan dibiarkan hubungi kami atau klik disini